Minggu, 16 Mei 2010

mengenal indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan panjang garis


pantai lebih dari 81.000 km serta lebih dari 17.508 pulau dan luas laut sekitar 3,1 juta

km2 sehingga wilayah pesisir dan lautan Indonesia dikenal sebagai negara dengan

kekayaan dan keanekaragaman hayati (biodiversity) laut terbesar di dunia dengan

memiliki ekosistem pesisir seperti mangrove, terumbu karang (coral reefs) dan padang

lamun (sea grass beds) (Dahuri et al. 1996).

Untuk ekosistem terumbu karang World Resource Institute (WRI) (2002)

mengestimasi bahwa luas terumbu karang di Indonesia adalah sekitar 51.000 km2. Angka

ini belum mencakup terumbu karang di wilayah terpencil yang belum dipetakan atau

yang berada di perairan agak dalam (inland waters). Jika estimasi ini akurat maka 51%

terumbu karang di Asia Tenggara atau 18% terumbu karang di dunia berada di perairan

Indonesia. Sebagian besar dari terumbu karang ini bertipe terumbu karang tepi (fringing

reefs) yang berdekatan dengan garis pantai sehingga mudah diakses oleh masyarakat

sekitar. Lebih dari 480 jenis karang batu (hard coral )telah didata di wilayah timur

Indonesia dan merupakan 60% dari jenis karang batu di dunia yang telah berhasil

dideskripsikan. Keanekaragaman tertinggi ikan karang di dunia juga ditemukan di

Indonesia dengan lebih dari 1.650 jenis hanya untuk wilayah Indonesia bagian timur .

Sebagai salah satu ekosistem utama pesisir dan laut, terumbu karang dengan

beragam biota asosiatif dan keindahan yang mempesona, memiliki nilai ekologis dan

ekonomis yang tinggi. Selain berperan sebagai pelindung pantai dari hempasan ombak

dan arus kuat, terumbu karang juga mempunyai nilai ekologis antara lain sebagai habitat,

tempat mencari makanan, tempat asuhan dan tumbuh besar serta tempat pemijahan bagi

berbagai biota laut. Nilai ekonomis terumbu karang yang menonjol adalah sebagai tempat

penangkapan berbagai jenis biota laut konsumsi dan berbagai jenis ikan hias, bahan

konstruksi dan perhiasan, bahan baku farmasi dan sebagai daerah wisata serta rekreasi

yang menarik.

Selanjutnya Hopley dan Suharsono (2000) dalam Burke et al.(2002)

mengestimasikan bahwa Keuntungan ekonomi dari terumbu karang Indonesia setiap

tahunnya sekitar 1,6 milyar US Dollar, selain itu terumbu karang Indonesia juga dikenal

sebagai salah satu penyumbang terbesar perikanan laut di dunia yang menyediakan 3,6

juta ton dari produksi perikanan laut secara keseluruhan pada tahun 1997 .

Sebagaimana ciri negara berkembang dengan populasi penduduk yang besar

ditambah dengan struktur geografis yang dikelilingi oleh laut, maka laut menjadi

tumpuan sebagian besar penduduk Indonesia untuk memenuhi kebutuhan hidup terutama

masyarakat di daerah pesisir. Tekanan terhadap sumberdaya laut terutama terumbu

karang meningkat seiring dengan bertambahnya populasi secara cepat. Ketergantungan

yang tinggi telah menyebabkan penurunan yang besar pada nilai ekologis dan ekonomis

akibat degradasi dan kerusakan yang parah. Dari sekitar 51.000 km2 luas terumbu karang

di Indonesia, lebih dari 40 % dalam kondisi rusak dan hanya sekitar 6,5% dalam kondisi

sangat baik selebihnya dalam kondisi sedang (WRI, 2002).

Dibeberapa tempat di Indonesia karang batu digunakan untuk berbagai

kepentingan seperti konstruksi jalan dan bangunan, bahan baku industri dan perhiasan.

Dalam industri pembuatan kapur, karang batu (hard coral) kadang-kadang ditambang

sangat intensif sehingga bisa mengancam keamanan pantai. Selain itu karang dan ikan

karang Indonesia yang berlimpah tersebut terancam oleh praktek penangkapan ikan yang

merusak. Penangkapan ikan menggunakan racun sianida dan bahan peledak telah meluas

di Indonesia bahkan di daerah yang dilindungi (WRI, 2002).

Kerusakan terumbu karang yang telah terjadi di beberapa kawasan pantai di

Indonesia menjadi keprihatinan banyak fihak akan keberlanjutan fungsi ekosistem

tersebut. Kerusakan ekosistem terumbu karang terjadi karena faktor- faktor alam, akan

tetapi faktor-faktor antropogenik mempunyai andil yang besar Menurut Garces (1992)

sumber-sumber kerusakan karang dapat dikelompokan sebagai aktivitas ekonomi yang

terdiri dari kegiatan perikanan, pembangunan di daratan disamping wilayah pesisir dan

rekreasi serta pariwisata.

Hasil survei WRI (2002) di wilayah Indonesia bagian Timur menunjukkan sekitar

65% kerusakan ekosistem terumbu karang disebabkan penangkapan ikan secara

destruktif. Sebagian besar menggunakan racun dan bom dimana aktivitas ini telah

mengakibatkan kerugian ekonomi yang luar biasa. WRI mengestimasi kerugian di

Indonesia akibat penangkapan ikan menggunakan bahan peledak selama 20 tahun ke

depan adalah sebesar 570 juta US Dollar. Sedangkan estimasi kerugian dari penangkapan

ikan dengan racun sianida secara berkala adalah sebesar 46 juta US Dollar. Dari

ekosistem terumbu karang yang rusak hanya diperoleh hasil perikanan rata-rata 5 ton/km2

/tahun sedangkan hasil produktivitas terumbu karang yang sehat bisa mencapai sekitar 20

ton/km2/tahun .